Swara Qalbu

Site menu
Entries archive
Login form
Main » 2011 » January » 8 » Akhir Rosul
4:35 PM
Akhir Rosul

Ass. wr. wb.

 

 

Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut ...

 

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah

lewat kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan

mengepakkan sayap. Pagi itu Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah

:"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan

Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua

hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an.

Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang

mencintaiku akan bersama-sama masuk surga bersama aku." Khutbah singkat itu

diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu

persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan

napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya

dalam-dalam.

 

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita

semua," desah hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu

semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang

limbung saat turun dari mimbar. Saat itu,

seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau

bisa.

 

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup.

Sedang di dalamnya,Rasulullah sedang terbaring lemah dengan

keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang

menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru

mengucapkan salam. "Bolehkah saya

masuk ? " tanyanya.

Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam,"kata

Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka

mata dan bertanya pada Fatimah,

"Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya

ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

 

Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang

menggetarkan.Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah,

dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara,

dialah yang  memisahkan pertemuan di dunia.

Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan

ledakkan tangisnya.

 

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan

kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril

yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah

dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya

Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit

telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga

terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih

penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku

bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan

khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah

berfirman kepadaku: "Kuharamkan surga bagi siapa saja,

kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata

Jibril.

 

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.

Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,

urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa

sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin

dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga

kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu

itu.

"Siapakah yang tega,melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar

kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena

sakit yang tak tertahankan lagi.

"Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut

ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak

bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan

sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku,

peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

 

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat

saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali

mendekatkan telinganya kebibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii,

ummatii, ummatiii?"

......... Dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu .......

 

Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

 

wass/sa.

Views: 248 | Added by: dhobith | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]

Copyright elvaztech © 2026
Free web hostinguCoz