Swara Qalbu

Site menu
Entries archive
Login form
Main » 2011 » January » 8 » Mengingat Ibu
4:11 PM
Mengingat Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah ?

 

Anda pasti tahu kelanjutan syair lagu diatas, atau setidaknya

pernah mendengar lagu tersebut. Iwan Fals dengan begitu puitis namun

gamblang menggambarkan beratnya kehidupan yang harus dijalani seorang ibu

demi mendidik dan membesarkan buah hatinya, kita !

 

Mari hadirkan kembali wajah sang ibu dalam bayangan kita, dengan seizin

Allah genangan air mata akan membanjiri kelopak mata yang mungkin sudah

sekian lama kita biarkan tak menyapanya. Kerut di pipinya mengisyaratkan

kelelahan yang sangat, tenaga yang mulai habis dimakan waktu seolah tak

lagi sanggup sekedar mengangkat tubuh rapuhnya. Di bola matanya, nampak

jelas guratan berat kehidupan yang telah dilaluinya. Semua itu,

dilakukannya hanya untuk kita, yang dicintainya.

 

Cinta anak sepanjang galah, cinta ibu sepanjang masa. Pepatah yang biasa

kita dengar untuk melukiskan betapa kita, anak-anak ibu, tidak akan pernah

sanggup membayar (berapapun dan dengan apapun) cinta yang pernah

diberikannya. Huwaish al Qorni, sahabat Rasulullah, rasa ingin membalas

cinta sang ibu membuatnya rela ingin menggendong ibunya pulang pergi

ibadah haji. Bahkan sahabat lain, dilarang pergi berperang bersama Rasul,

lantaran tidak ada yang mengurus ibunya yang sudah renta. ?rawat dan

layani ibumu,? perintah Rasul kepada pemuda itu.

 

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu

bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang

bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun?(QS. Lukman:14).

 

Bahkan dalam ayat lain, begitu tegas Allah menekankan dan mengingatkan

kesusahan ibu saat mengandung serta memerintahkan kita untuk berbuat baik

kepada ibu (QS.Al-Ahqaf:15). Ketika Nabi SAW ditanya tentang siapa yang

paling patut dihormati dan diperlakukan sebaik-baiknya, Nabi menjawab:

?Ibumu?. Dan hal itu diulangnya sampai tiga kali, sebelum ia menyebut

?bapakmu?. Dalam hadits lain yang masyhur, Nabi SAW berkata bahwa surga

terletak dibawah telapak kaki kaum ibu.

 

Dalam perjalanan bersama ibu, perlakuan kasar kerap kita layangkan

kepadanya. ?Uf?, ?ah,? ?cis? menjadi kosa kata yang biasa terlontar dari

mulut kotor ini. Tak pernah kita menghargai keringatnya kala menyiapkan

sarapan dan makan malam. Andai kita tahu, air matanya tak pernah kering di

pertengahan malam, kala ia mengadu kepada Allah perihal anak-anaknya.

Bibirnya tak pernah berhenti berdo?a agar kita menjadi anak yang bisa

dibanggakan. Tak peduli darah menjadi penghias kakinya demi menghantarkan

sang buah hati menggapai cita.

 

Sekarang, imbalan apa yang diterima ibu dari anak-anak yang mungkin

kinipun sudah beranak. Tidak jarang kesibukan kerja dan keluarga membuat

kita melupakannya. Bahkan mungkin rasa cinta kepada istri dan anak-anak

mengikis habis cinta kepada ibu (tentu cinta kepada Allah dan Rasulullah

diatas segalanya). Tak sedikit waktu kita luangkan sekedar untuk tahu

keadaannya, meski 'handphone' tak pernah lepas dari tangan.

Sekarang, Kita semakin sombong, seolah tak membutuhkannya. Terlebih saat

senang dan berkecukupan. Tak sadar kita, ia begitu ikhlas atas air susu

dan keringatnya.

 

Begitu banyak masalah kehidupan kita hadapi. Terkadang kita mengeluh,

putus asa, tidak tahan dengan berbagai cobaan yang menerpa. Tak sadar,

semua yang kita alami saat ini sesungguhnya pernah dilalui ibu, dan

berhasil !

 

Kita terlalu lemah, cengeng dan selalu merasa kalah dalam mengarungi

bahtera hidup. Padahal sering kita memandang sebelah mata ?kekuatan? ibu

yang sudah renta. Tak sadar kita, garis wajahnya jelas-jelas memancarkan

kekuatan teramat dahsyat.

 

Ia hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia, meski ia tidak sebahagia yang

kita bayangkan. Tak sadar, sesungguhnya kita butuh kembali kepadanya,

memandangi keteduhan wajahnya, membelai tangan keriputnya, menciumi

kakinya dan meminta do?anya.

 

Ingin ku dekat dan menangis dipangkuanmu

Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu do'a-do'a baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas, IBU

Views: 231 | Added by: dhobith | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]

Copyright elvaztech © 2026
Free web hostinguCoz